Friday, 3 January 2014

Anak bersalah, tegurlah dengan sopan

 ( late post )

Beberapa hari ini saya drop karena sudah dua orang tua murid melaporkan tindakan tidak menyenangkan yang dilakukan anakku. Benar-benar kejutan di akhir masa sekolah. Bukan hal yang biasa bila anakku sampai memukul temannya, apalagi teman perempuan.

Kemarin saya dikagetkan dengan berita bahwa anak saya memukul teman sebangkunya. Awalnya saya sempat merasa campur aduk antara sedih dan marah. Tapi alhamdulillah saya bisa mengatasi hal itu. Saya berusaha tidak terbawa emosi saat menghadapi hal seperti ini. Supaya sayapun bisa berkomunikasi dengan baik kepada anak saya.

Yang membuat saya Syok waktu itu adalah. Pagi-pagi Regan mendapat " surat cinta". Surat itu dibuat oleh seorang ibu ( dari teman sebangkunya). Dalam suratnya beliau bilang kira-kira seperti ini :

Dik ,
Tolong kalau memukul jangan dikepala **** ya
soalnya kemarin waktu pulang sekolah kepala **** sakit
Apalagi adik sering memukul pasti di kepala
Nanti mamanya **** lapor kekepala sekolah lho ! atau lapor ke pak polisi..

mamanya ****

Gimana nggak syok, baca kalimat terakhirnya seperti itu, penuh ancaman menurut saya. Dan suratnya bukan dikasih ke saya, tapi ke anak saya. Kalau anak saya trauma nggak mau datang lagi kesekolah bagaimana?. Tapi sekedar syok beberapa saat saja sih, saya anggap itu adalah teguran supaya anak saya jera.

Hari ini ada lagi yang melapor, bahwa anaknya baru saja kena cakar dan kemarinnya lagi pernah dipukul kepalanya pakai tempat pensil oleh anak saya. Subhanalloh, saya kaget kenapa anak saya begitu agresif.

Dengan rendah hati saya akui anak saya salah, karena dia memukul teman  karena nggak mau mendengarkan dia bicara dan satu lagi mengatainya sombong ( menurut penuturannya ) . Sebenarnya saya juga nggak tahu apa benar anak saya sering memukul, dan selalu dikepala. Yang saya tahu memang kemarin dia memukul lewat pengakuannya. Tapi apakah hal demikian menjadi wajar untuk mengancam sipelaku?.Anak saya masih enam tahun dan masih perlu bimbingan. Kalaupun orang tua tidak terima seharusnya bisa langsung ke saya,

Jujur disekolah anak saya juga sering kena bully. Pernah sampai tangannya sakit nggak bisa gerak karena dipukul kakak kelasnya. Tempat pensilnyapun sering jadi sasaran keusilan teman-temannya. Yang terakhir tempat pensilnya remuk karena diinjak-injak temannya. Kata-kata olokan juga sering dia dapatkan. Sampai suatu hari dia sakit dan bolos kurang lebih empat harian.

Jadi bukannya bermaksud membela diri. Setiap anak mungkin pernah merasakan bullying tapi kadarnya yang beda-beda. Dan cara anak menghadapainya pun beda-beda. Setiap orang tuapun punya cara sendiri untuk menyelesaikan masalah. Saya hargai itu.  Tapi tegurlah dengan sopan bila si anak salah, jangan ada nada mengancam atau mengintimidasi. Maka dari itu sianakpun akan belajar memperbaiki perilakunya.

Kejadian itu menjadi kejadian berharga bagi anak saya, karena tidak semua orang bisa terima dengan kelakuannya. Tidak semua ibu juga rela anaknya diperlakukan seperti itu, termasuk juga saya sebenarnya, tapi saya lebih memilih untuk bisa merangkul teman-teman Regan, bersahabat.

Dan satu lagi yang saya tekankan pada anak saya adalah sikap seorang jagoan sejati. Saya bilang " sayang, jagoan itu bukan superman, batman atau spiderman yang jago pukul-pukulan, jagoan sejati itu orang yang berani mengakui kesalahannya kemudian meminta maaf". Dan alhamdulillah Dia mengerti dan mau meminta maaf walaupun egonya masih keluar juga hehehe..

Anak-anak tetaplah anak-anak. Sayapun tak lantas menjugde nakal kepada anak saya begitu saja setelah mengetahui kejadian ini. Bagaimanapun juga dia tetap anak saya. Semua tingkah jelek yang anak saya lakukan adalah tanggung jawab saya, ibunya. Dan tingkah baiknya adalah perjuangannya yang tetap patut mendapat apresiasi. Pelajaran berharga juga bagi saya , ibunya. Supaya saya juga bisa belajar sabar dan mampu berbesarhati. Saya sudah mulai merasakan benar-benar jadi ibu sekarang hehe.
 ***

Jika anak dibesarkan dengan celaan, maka ia belajar memaki
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, maka ia belajar berkelahi
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, maka ia belajar rendah diri
Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, maka ia belajar menyesali diri
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, maka ia belajar mengendalikan diri
Jika anak dibesarkan dengan motivasi, maka ia belajar percaya diri
Jika anak dibesarkan dengan kelembutan, maka ia belajar menghargai
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, maka ia belajar percaya
Jika anak dibesarkan dengan dukungan, maka ia belajar menghargai diri sendiri
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, maka ia belajar menemukan kasih dalam kehidupannya
 -Dorothy Law Nollte-

No comments:

Post a Comment